Sepatu Batik Hasil WUB Desa Poto’an Daya Ramaikan Pameran UMKM di MTQ Jatim

Spread the love
Salah satu stand WUB Pamekasan yang terletak di eks RSUD jl. Kesehatan

Radioralitafm.com – Pamekasan, Berawal dari pelatihan Wira Usaha Baru (WUB) yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Pemerintah Desa Poto’an Daya kecamatan Palenga’an inisiasi produksi Sepatu Batik.

Momentum MTQ XXIX Provinsi Jawa Timur kali ini menjadi kesempatan emas bagi peserta WUB yang mulai merintis usaha barunya. Sebab, akan dikenalkan pada khalayak di Pameran UMKM yang akan digelar selama kegiatan berlangsung.

Kepala Desa Poto’an Daya, Mohammad Rofiuddin mengungkapkan, setelah masa pelatihan pembuatan sepatu sekitar dua bulan lalu, pihaknya kemudian memutar otak agar sepatu yang dihasilkan menjadi ikon dan menarik bagi kalangan muda, namun berkearifan lokal. Nah, atas motivasi itulah dia mengorbankan baju batiknya untuk dijadikan bahan percobaan pembuatan sepatu batik untuk pertama kalinya.

Tak ayal, setelah jadi berupa sepatu, maka menghasilkan dua pasang sepatu batik yang kemudian dipakainya bersama sang istri untuk keseharian. Tak dinyana Ternyata banyak orang yang tertarik dan kagum atas kreasi WUB Desa tersebut, tak terkecuali juga Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

“Bahkan bapak Bupati langsung kirimkan bahan batik khas berbaurnya untuk dijadikan bahan sepatu. Alhamdulillah jadi 4 pasang sepatu batik saat itu, dan beliau kagum akan kwalitasnya,” ujarnya pada media.

Kini, dengan adanya MTQ Jatim di kabupaten Pamekasan pihaknya merasa bangga dan seolah memiliki angin segar untuk mengenalkan produk unggulan itu ke khalayak. Terutama pada rombongan Ribuan kafilah dari kabupaten dan kota, peserta MTQ se Jatim yang akan hadir. Juga bersama produk UMKM dan WUB Pamekasan lainnya yang selama ini sempat terhambat akibat pandemi Covid-19 perkembangannya.

“Ini merupakan pasar yang bagus untuk mengenal produk WUB secara langsung. Pasalnya setelah berproduksi tentu harus dipasarkan oleh kita, dengan adanya MTQ jelas ini peluang besar kenalkan, paparkan dan jaring pembeli dari berbagai kota/kabupaten,” terangnya, Selasa pagi.

Baginya, program WUB itu bukan hanya soal pelatihan dan produksi saja, namun juga harus bisa berpikir terbuka soal pemasaran produk dan keberlanjutan pemasaran yang kolaboratif. Artinya, semua harus komperhensif dan berkesinambungan sehingga produk yang dihasilkan akan langsung terjual dan terdistribusi dengan cepat dan tepat.

“Harus ada pola kolaboratif dalam Produksi dan pemasaran produk di lapangan. Jadi hasil WUB yang dihasilkan akan jelas jalur distribusi dan pasarnya sehingga akan berlangsung dengan baik program tersebut,” katanya, menambahkan.

Selain itu, Rofiuddin juga menginginkan adanya keselarasan pasar dalam pola kolaboratif tersebut. Semisal ada produk WUB yang menghasilkan baju batik atau pesta, sehingga dapat dikolaborasikan dengan pernak pernik lainnya yang bisa dihasilkan oleh WUB Pamekasan yang lain. Misalnya, seperti Sepatu Batik dan Masker batik dengan corak serupa.

“Sehingga, WUB Pamekasan yang memproduksi produk-produk tersebut bisa maju bersama dalam satu pasar yang sama, tanpa merasa tersaingi. Kan, dengan begitu juga bisa mengangkat nilai jual dari barang tersebut juga nantinya,” tukasnya.

Terakhir, pihaknya juga mengharap ada pola sentralistik WUB di Pamekasan agar terarah dan menjadi ikon daerah. Seperti pembuatan sentra batik di daerah mana, Kemudian sentra sepatu di kawasan mana, dan sentra olahan makanan di wilayah mana. Dengan begitu akan terfokus produksinya, dan wujud desa tematik lebih nyata dikenal masyarakat terutama potensinya. (Rilis Diskominfo)